..MIMPI..

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Aku masih ingin menggenggam erat rasa itu

Aku masih ingin menggapaimu

Dalam mimpi

Hanya itu tempat kita bertemu

Hanya itu sebatas rasa dapat kuungkap

Andai kau nyata di depanku

Andai kau memberi kesempatan untukku mengatakan

Mimpi

Hanya satu itu yang dapat kupertahankan tentangmu

Dan kau terus hidup di dalamnya

Hanya sebatas mimpi

Tidur adalah pekerjaan paling indah. Saat rintik hujan turun menyiratkan berjuta kenangan, aku lebih memilih terlelap dibalik selimut tebal. Kenangan tentang hujan hanya akan membuatku sakit. Lebih baik aku tidur dan bermimpi. Walau mimpi itu tak pernah bisa kuatur. Hanya itu media yang sanggup mempertemukan kami lagi.

Dia hampir selalu datang di mimpi-mimpiku. Dengan keadaan yang berbeda tentunya. Kami tak berbatas keadaaan dalam mimpi. Kami bisa melakukan apapun yang kami mau. Dia bisa memahami apa yang aku rasakan begitu juga sebaliknya. Kami saling menjaga dalam mimpi. Tak ada lagi penghalang antara kami berdua. Tak ada ruang dan jarak yang memisahkan. Semua terasa indah saat ia duduk disebelahku lalu kami bercerita tentang perjalanan hidup.

Semakin hari aku semakin gila akan mimpi-mimpi tentangnya. Mimpi itu bagai candu. Aku tak mampu berpisah dengan mimpiku. Hingga orang mengatakan aku berpenyakit. Jiwaku memang sakit. Sakit dan tak pernah mampu menerima bahwa ini semua hanya mimpi. SEMU. Aku menggilai hal yang tak nyata dalam hidupku.

Aku berjalan sendiri di dunia ini tanpa dia. Dia yang kini entah berada dimana, bersama siapa, melakukan apa, dan keadaannya bagaimana. Perih. Perih yang membuatku tak sanggup untuk terus bertahan di dunia nyata. Aku gila. Setiap aku terbangun, aku tersenyum lalu menangis sejadi-jadinya.

Aku menyadari duniaku gelap tanpanya. Aku hanya menjadi pengecut untuk diriku sendiri. Hanya mampu menjadi raja dalam mimpi-mimpiku. Bahkan aku tak pernah tergerak untuk kembali mencarinya. Tak pernah sedikit pun mencoba untuk bertanya bagaimana keadaannya.

Aku egois. Kenyataan itu menamparku keras-keras. Aku hanya mampu memilikinya dalam mimpi karena aku tak pernah mau mengungkapkan rasa itu. Aku tak pernah membiarkan ia mengetahui rasaku. Aku tak pernah peduli bagaimana rasanya padaku. Bagaimana perasaannya ketika ia mundur dan melihatku yang tak pernah memahami rasanya.

Aku tak bisa serta merta mengatakan rasa itu ada. Aku tak bisa mengungkapnya kar’na mulutku terkunci rapat. Bahkan dia yang kusayangi tak mampu membukanya. Hanya sebatas mimpi aku sanggup memberi ruang untuk rasaku sendiri. Hanya sebatas mimpi yang bisa aku berikan untuk rasa yang dulu ia miliki. Dan itu akan mengikatku hingga akhir.

Rizti Khairinnisa

Kamis, 23 Oktober 2008

Ditulis dalam puisi dan cerita. Kaitkata: , , . 3 Komentar »

KELEBIHAN DIBALIK KEKURANGAN JATINANGOR

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Sejumlah mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad) kaget begitu sampai di kawasan Unpad Jatinangor. Mahasiswa baru tersebut sebagian besar hasil dari “saringan” SPMB sisanya berasal dari SMUP dan jalur khusus lainnya. Mereka tampakj kecewa melihat situasi kawasan Jatinangor yang jauh dari angan mereka sebelumnya. Jalan raya yang hiruk pikuk dengan truk-truk besar lantaran merupakan jalur lintas kota, cuaca terik dan berdebu, serta akses yang sulit dari pusat kota.

Unpad memang dipisah menjadi dua bagian. Sebagian di Bandung, biasa disebut Unpad Bandung dan sebagiannya lagi di Jatinangor yang sering disebut Unpad Jatinangor. Unpad yang semula berada di Bandung karena tidak tersedianya lahan di Bandung sebagian dipisah di daerah Jatinangor. Di Unpad Bandung terdapat kantor rektorat, program doktor, program pascasarjana, program sarjana ekonomi dan hukum serta program ekstensi. Sedangkan di Jatinangor terdapat semua program sarjana kecuali ekonomi dan Hukum.

Sebagian besar mahasiswa Unpad menganggap Jatinangor adalah “neraka” yang terpencil jauh dari “peradaban”. Memang tak banyak yang bias dilakukan di Jatinangor. Tak banyak tempat hiburan, akses ke pusat kota Bandung pun memakan waktu yang lama dengan sarana yang terbatas. Tak sedikit mahasiswa Unpad Jatinangor memilih nge-kost di Bandung walaupun harus bersusah payah pergi kuliah ke Jatinangor agar tidak mendekam di Jatinangor.

Sebenarnya bukan hanya mahasiswa saja yang merasa kurang sreg dengan dipilihnya kawasan Jatinangor sebagai kawasan pendidikan. Sebagian besar orang tua pun merasakan hal yang sama. Melihat jalan raya yang digunakan mahasiswa untuk pergi ke kampus adalah jalur lintas kota yang dilalui truk-truk besar, tentunya para orang tua khawatir dengan keselamatan putra-putrinya. Kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat besar.

Tetapi sebenarnya pihak Unpad dan kepolisian setempat sedang berusaha mengatasi kekhawatiran itu. Adanya polisi yang mengatur lalu lintas di gerbang Unpad adalah merupakan suatu bukti nyata dari usaha tersebut. Polisi-polisi tersebut berusaha meminimalisasi kemungkinan terjadi kecelakaan. Daerah gersang terutama yang berada di gerbang Unpad juga sedang diolah agar debu-debu tidak mengganggu aktivitas mahasiswa.

Pada awalnya kita hanya melihat sisi negatif dari kawasan ini sebagai kawasan Unpad. Hampir semua merasa tertipu dan kecewa melihat keadaan Jatinangor. Keluhan tentang sulitnya mendapat hiburan. Tetapi setelah kita telaah lebih dalam lagi, sebenarnya tempat seperti inilah yang dibutuhkan oleh universitas besar yang mayoritas mahasiswanya bersala dari luar daerah.

Lokasi yang minim(bukan berarti tidak ada) hiburan ini justru membuat mahasiswa lebih berkonsentrasi terhadap perkuliahan. Bagi mahasiswa yang berasal dari “daerah” tidak akan kaget dan terlibat pergaulan yang “kurang baik” karena mereka lebih mudah beradaptasi. Bagi mahasiswa yang mudah “tergoda” dengan tempat-tempat hiburan lebih bias terbantu menahan diri. Alasan hiburan, sebenarnya untuk mendapatkan hiburan bias dilakukan di akhir minggu. Dengan begitu, kondisi keuangan bulanan mahasiswa dan kuliah tentunya dapat lebih terkontrol. Selain itu untuk mendapatkan akses internet gratis sekarang tak perlu lagi ke Bandung. Di setiap fakultas sudah menyediakan area hotspot. Bahkan Jatos dan beberapa tempat makan sudah menyediakan area hotspot.

Apapun keputusan yang ada selalu mengundang pro dan kontra. Termasuk pemilihan kawasan ini sebagai kawasan perkuliahan Unpad. Setiap keputusan selalu ada kekurangan. Akan lebih baik jika kita memikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki kekurangan itu daripada mengeluh. Saya sebagai mahasiswa Unpad senagn berada di Jatinangor. Akan lebih senang lagi jika fasilitas-fasilitas yang ada di Unpad Jatinangor lebih diperbaiki lagi. Kebersihan gerbang yang terjaga, polisi lalu lintas yang selalu ada untuk menertibkan lalu lintas hingga bus damri dengan keadaan yang layak, hal-hal itulah yang paling dinantikan mahasiswa Unpad Jatinangor.

Rizti Khairinnisa 14 Oktober 2008

Tugas Dasar-dasar Penulisan

Ditulis dalam Uncategorized. Kaitkata: , . 1 Komentar »
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.