<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Sejumlah mahasiswa baru Universitas Padjadjaran (Unpad) kaget begitu sampai di kawasan Unpad Jatinangor. Mahasiswa baru tersebut sebagian besar hasil dari “saringan” SPMB sisanya berasal dari SMUP dan jalur khusus lainnya. Mereka tampakj kecewa melihat situasi kawasan Jatinangor yang jauh dari angan mereka sebelumnya. Jalan raya yang hiruk pikuk dengan truk-truk besar lantaran merupakan jalur lintas kota, cuaca terik dan berdebu, serta akses yang sulit dari pusat kota.
Unpad memang dipisah menjadi dua bagian. Sebagian di Bandung, biasa disebut Unpad Bandung dan sebagiannya lagi di Jatinangor yang sering disebut Unpad Jatinangor. Unpad yang semula berada di Bandung karena tidak tersedianya lahan di Bandung sebagian dipisah di daerah Jatinangor. Di Unpad Bandung terdapat kantor rektorat, program doktor, program pascasarjana, program sarjana ekonomi dan hukum serta program ekstensi. Sedangkan di Jatinangor terdapat semua program sarjana kecuali ekonomi dan Hukum.
Sebagian besar mahasiswa Unpad menganggap Jatinangor adalah “neraka” yang terpencil jauh dari “peradaban”. Memang tak banyak yang bias dilakukan di Jatinangor. Tak banyak tempat hiburan, akses ke pusat kota Bandung pun memakan waktu yang lama dengan sarana yang terbatas. Tak sedikit mahasiswa Unpad Jatinangor memilih nge-kost di Bandung walaupun harus bersusah payah pergi kuliah ke Jatinangor agar tidak mendekam di Jatinangor.
Sebenarnya bukan hanya mahasiswa saja yang merasa kurang sreg dengan dipilihnya kawasan Jatinangor sebagai kawasan pendidikan. Sebagian besar orang tua pun merasakan hal yang sama. Melihat jalan raya yang digunakan mahasiswa untuk pergi ke kampus adalah jalur lintas kota yang dilalui truk-truk besar, tentunya para orang tua khawatir dengan keselamatan putra-putrinya. Kemungkinan terjadinya kecelakaan sangat besar.
Tetapi sebenarnya pihak Unpad dan kepolisian setempat sedang berusaha mengatasi kekhawatiran itu. Adanya polisi yang mengatur lalu lintas di gerbang Unpad adalah merupakan suatu bukti nyata dari usaha tersebut. Polisi-polisi tersebut berusaha meminimalisasi kemungkinan terjadi kecelakaan. Daerah gersang terutama yang berada di gerbang Unpad juga sedang diolah agar debu-debu tidak mengganggu aktivitas mahasiswa.
Pada awalnya kita hanya melihat sisi negatif dari kawasan ini sebagai kawasan Unpad. Hampir semua merasa tertipu dan kecewa melihat keadaan Jatinangor. Keluhan tentang sulitnya mendapat hiburan. Tetapi setelah kita telaah lebih dalam lagi, sebenarnya tempat seperti inilah yang dibutuhkan oleh universitas besar yang mayoritas mahasiswanya bersala dari luar daerah.
Lokasi yang minim(bukan berarti tidak ada) hiburan ini justru membuat mahasiswa lebih berkonsentrasi terhadap perkuliahan. Bagi mahasiswa yang berasal dari “daerah” tidak akan kaget dan terlibat pergaulan yang “kurang baik” karena mereka lebih mudah beradaptasi. Bagi mahasiswa yang mudah “tergoda” dengan tempat-tempat hiburan lebih bias terbantu menahan diri. Alasan hiburan, sebenarnya untuk mendapatkan hiburan bias dilakukan di akhir minggu. Dengan begitu, kondisi keuangan bulanan mahasiswa dan kuliah tentunya dapat lebih terkontrol. Selain itu untuk mendapatkan akses internet gratis sekarang tak perlu lagi ke Bandung. Di setiap fakultas sudah menyediakan area hotspot. Bahkan Jatos dan beberapa tempat makan sudah menyediakan area hotspot.
Apapun keputusan yang ada selalu mengundang pro dan kontra. Termasuk pemilihan kawasan ini sebagai kawasan perkuliahan Unpad. Setiap keputusan selalu ada kekurangan. Akan lebih baik jika kita memikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki kekurangan itu daripada mengeluh. Saya sebagai mahasiswa Unpad senagn berada di Jatinangor. Akan lebih senang lagi jika fasilitas-fasilitas yang ada di Unpad Jatinangor lebih diperbaiki lagi. Kebersihan gerbang yang terjaga, polisi lalu lintas yang selalu ada untuk menertibkan lalu lintas hingga bus damri dengan keadaan yang layak, hal-hal itulah yang paling dinantikan mahasiswa Unpad Jatinangor.
Rizti Khairinnisa 14 Oktober 2008
Tugas Dasar-dasar Penulisan
Februari 26, 2009 pada 7:19 pm
kakak saya mau nanya mendingan ambil komunikasi di unpad ato paramadina jakarta?
saya ambil SMUP biaya 30 juta, untuk ke depannya apakah akan murah?