Rizti Khairinnisa
210110070186
Kelompok 3
“Self Development 6”
My Last Day
Apa yang harus aku lakukan jika ini hari terakhirku? Sebelumnya, aku tak pernah benar-benar memikirkan hal seperti itu terlalu dalam. Kecuali saat dulu, tepatnya Desember 2006, aku masuk ICU gara-gara demam berdarah. Pasien yang masuk di hari sama denganku meninggal karena DBD. Hal itu benar-benar mengguncang jiwaku. Aku shock berat. Sementara trombositku tak kunjung naik, aku mulai dihantui pikiran-pikiran aneh itu. Bagaimana kalau aku hidup tidak lama lagi di bumi?
Aku harus melakukan banyak hal yang belum pernah aku lakukan sebelum ‘pergi’. Aku harus banyak makan es krim, coklat, semuanya! Touring ke Bali naik sepeda motor bareng anak-anak seperti biasanya. Tapi dengan keadaanku saat itu yang terkulai lemas di ICU, aku tak mungkin bisa melakukan banyak hal. Aku langsung sedih. Dan berharap agar Tuhan tidak mengambil nyawaku sekarang atau dalam waktu dekat ini. Aku berharap Tuhan masih mau memberiku kesempatan untuk membahagiakan ibundaku tercinta. Dan aku mencoba kembali tenang.
Tapi bayangan orang yang masuk ICU lalu meninggal itu terus saja membuatku resah. Hingga aku berpikir, pasti ada satu hal yang benar-benar aku lakukan sebelum malaikat maut datang menjemputku. Aku berpikir sampai aku lemas tak berdaya, trombositku tak kunjung naik juga dihari kedua. Sampai ketika ayah datang dan pamit untuk bertugas ke Jakarta. Ayah berjanji akan segera pulang dan menjagaku lagi. Ia juga bilang kalau aku segera sembuh, ia akan membelikan sepatu baru. Aku mengangguk dan hanya mampu bilang “Hati-hati ya Ayah!”
Aku memandangi laki-laki paruh baya itu. Banyak dendam untuknya. Banyak sekali sakit hati yang aku rasakan karenanya. Bukan hanya sakit hati yang aku rasakan. Tapi sakit yang bunda rasakan, sakit yang kedua adik kecilku rasakan saat itu. Sejak kelas 3 SD, kedua orang tuaku bercerai disebabkan pihak ketiga dari ayahku yang kini menjadi istrinya. Yang kusesali saat itu bahkan adikku yang bungsu belum lancar berbicara. Adikku yang hingga kini tak pernah merasakan bagaimana bahagianya memiliki seorang ayah yang setiap pagi akan membangunkannya untuk mandi dan mengantarkannya pergi ke sekolah seperti yang aku rasakan dahulu. Atau saat aku tidak bisa tidur dan ayah selalu mendongengkan cerota-cerita karangannya yang menurutku lucu. Adikku tak pernah merasakannya.
Aku tidak peduli sebenarnya dengan perceraian kedua orang tuaku. Aku menganggap mereka sudah dewasa untuk memutuskan segala sesuatunya. Yang aku sesali kenapa justru orang yang aku sayangi yang akhirnya menghancurkan masa-masa indah hidupku, bundaku, dan kedua adikku. Ya memang aku sangat benci padanya. Tapi aku tak pernah mampu untuk mengungkapnya. Karena dibalik hati yang mendendam ini ada rasa cinta yang begitu besar untuknya. Besar sekali. Karena dia ayahku, begitu kata bunda.
Aku mulai berpikir jika tidak ada hari esok lagi untukku, aku akan menumpahkan semua kekesalanku pada ayah. Aku akan menunjukkan bagaimana ‘sakit’ yang aku alami selama ini. Bagaimana irinya hatiku saat aku melihat begitu bahagianya keluarga teman-temanku yang lain dengan keluarga yang ‘wajar’. Aku berjanji semua uneg-uneg itu akan aku keluarkan sampai semua beban yang ada di dadaku hilang. Sampai nafasku lega dan tak seberat saat aku menahan tangisanku lagi. Tapi setelah itu aku akan mengatakan maaf karena sudah sangat membencinya. Lalu aku akan mengatakan bahwa aku sangat menyayanginya. Aku ingin membuatnya tersenyum bangga pada satu-satunya anak perempuan yang ia miliki.
Yap, sepertinya hanya itu saja yang aku ingin lakukan jika hidupku hanya tinggal hari ini saja. Aku akan menumpahkan semua isi hati yang selalu aku tutup-tutupi dari ayah. Semuanya hingga tak ada lagi beban yang tersisa dihati.