Belum sembuh luka yang kemarin, aku sudah berani kembali mempertaruhkan hatiku. Mungkin benar kata orang bahwa cinta itu buta. Ha-ha. Bahkan otak yang seharusnya mampu mengendalikan semua harus mengaku kalah pada hati!
Saat ini aku memandangnya dari kejauhan. Dadaku mulai kembang kempis. Hatiku ingin bernyanyi na-na-na-na. Mulutku ingin melengkukan senyuman tiap detik. Dia mulai muncul dan memecahkan konsentrasiku tiap waktu. Objek ciptaan Tuhan yang paling sempurna yang pernah kulihat. Proporsi yang pas di setiap lekuk wajah dan tubuhnya. Senyumnya menyinariku bak hangat sinar mentari pagi. Aku mulai gila membayangkannya.
Hey-hey! Bahkan aku tak mengenal siapa dirinya! Aku memang tak pernah mengerti bagaimana sistematika hati bekerja. Ia memilih seseorang tanpa kompromi dengan otak.
“Apakah aku sanggup mengejarnya?”
“Apakah aku pantas bersanding dengannya?”
Bahkan menatap matanya yang sedang menatapku, aku tak sanggup. Ketika otakku yang bekerja dengan logikanya mulai mengingatkan, hati hanya menganggapnya sebagai racauan tak jelas. Ya-ya-ya, aku lupa! Cinta tak memiliki sistem yang terstruktur rapi untuk dipetakan. Cinta juga tidak memiliki dasar logika karena ia berdiri sendiri sebagai eksistensi yang mandiri. Cinta hanya peduli pada rasa. Ketika rasa sudah menunjuk, hanya pada itulah cinta mengikuti, bersemayam dan berkembang